Bukan akhir dari segalanya

| Sabtu, 09 Februari 2013
Kalah adalah hal yang sangatlah wajar, dan mungkin sering ku dengar. Bahkan aku telah berkali-kali mengalaminya, tapi aku mencoba bangkit. Kau tau? kekalahan itu bagai guru, karena kalah kita belajar bangkit, lalu berlari kembali, dan akhirnya kita akan mampu menjadi yang terhebat. Kekalahan adalah awal dari kemenangan, bersabar dan berusahalah. Dan suatu saat kemenangan akan menghampiri kita. selama aku mampu berdiri, mampu untuk berjalan dan berlari, tak peduli walaupun kalah akan menghampiri :' aku yakin Tuhan mempunyai rencana yang terindah, terbaik, dan termanis untuk kita. 
_______
sejak kecil mama sama papa mengajarkanku untuk tidak mudah putus asa. aku memulai bermimpi sejak mama dan papa selalu menyemangatiku, mereka selalu bersabar menanti keberhasilanku. tentu sebagai anak, aku tak mau membuat mereka kecewa, apalagi menangis. sampai dengan umurku yang ke 14 ini aku tak pernah melihat mama sama papaku menangis, begitu tegarnya mereka. senyum indah mereka selalu terpancar menemani hari-hariku. kata-kata lembut mereka membuatku terenyuh ketika mendengarnya. sejak kecil mereka selalu berada di sampingku, tak peduli dalam keadaan bagaimanapun. tak tau aku harus berkata apa, mereka begitu sempurna untukku. mereka selalu berjuang setiap hari agar aku bangga mempunyai manusia seperti mereka. rengekanku selalu didengarnya. setiap hari aku selalu mengeluh kepada mereka, tetapi tak sedikitpun mereka kesal karena keluhankuy. MyGod makhluk hebat ini selalu menyemangatiku, hingga akhirnya aku mulai menulis sebuah mimpi pada sebuah kertas, dan kutempel pada dinding kamarku. berharap suatu saat aku dapat meraih mimpi itu. aku yakin, pasti mimpiku telah lelah menunggu aku menjemputnya, mungkin mereka berkata "Tuhan aku lelah menunggu dia menjemputku, sampai kapan aku harus digantung disini?"
tetapi aku berjanji kok pada diriku, bahwa aku akan menjemput mimpiku itu, karena mama sama papa selalu mendukungku dari belakang. banyak cerita tentang kekalahan dalam hidupku yang telah kuceritakan pada mama sama papa. mereka terus mendidikku, menyayangiku, memeluk aku. bahkan sampai sekarang mereka masih rutin menyanyikan lagu nina bobo sebelum tidur, Tuhan terima kasih.
sampai pada saatnya aku mengikuti kompetisi, setiap hari mama sama papa selalu membinaku, agar aku menjadi yang terbaik, dan mampu membuktikan pada dunia. mereka rela meninggalkan pekerjaannya demi aku. bahkan setiap malam mereka selalu berdo'a kepada Tuhan agar aku bisa menembus mimpiku. 
hari itu pada tanggal 18 Agustus tepat pada ulang tahun mamaku, aku menghadapi kompetisi itu, aku tak bisa membelikan kado apa-apa untuk mama. aku hanya ingin memenangkan kompetisi ini dan menjadikan kado untuk mama dan papa, khususnya mama. pagi itu aku bangun dengan semangat, mama sudaah menyiapkan makanan pagi yang sepesial dari hari-hari lainnya. papa juga sudah siap memakai baju rapi untuk mengantarku berkompetisi. aku makan dengan lahap dan semangat. mama dan papa melihatku dengan penuh harapan, berharap aku menjadi yang terbaik. "Tuhan semoga aku bisa mengabulkan harapan mereka" aku berbicara dalam hati. sebelum aku berangkat bersama papa, mama memelukku sangat kencang dan penuh harap. 
aku langsung menuju mobil yang telah siap mengantar aku berkompetisi. aku dan papa menuju kampus UI, sejam aku dan papa menunggu kompetisi di mulai, dalam waktu itu papa selalu memberiku motivasi-motivasi agar aku optimis untuk menjadi pemenang disini. "papa rela mengorbankan semua demi vera, vera juga mau kan berkorban untuk papa?" tanya papa kepadaku. dengan anggukan pasti aku menjawab "ya!". lalu papa tersenyum lebar kepadaku. 
tett tett, bel tanda dimulainya kompetisi, aku bersemangat dan detikpun berlalu, menit berlalu, bahkan 2 jam telah berlalu. aku menanti pengumuman dengan penuh harap. akhirnya papan pengumuman telah terpapar, namaku tak tertulis disitu, kecewa dan sedih yang tercampur menjadi satu, aku menangis, diam, tak berkata. dari kejauhan aku melihat papa tersenyum lebar, aku mendekatinya dan aku berkata pada papa "pa, i'm not the winner, i'm not the best pa, sorry". papa berkata "coba vera usap dulu deh air matanya, vera menyerah? tentu tidak kan? jangan mudah menyerh dong, mama dan papa siap kok membimbing vera kembali, vera harus bangkit dong, suatu saat kamu akan jadi yang terbaik nak. tentunya, kamu harus berusaha, mama dan papa juga akan selalu mendukung vera dalam keadaan apapun"
aku dan papa pulang, aku kecewa, benar-benar kecewa, tetapi papa terus tersenyum, tak terlihat gelisah sama sekali. papa menawariku "mau makan dulu apa mau pulang langsung nih?", spontan aku menjawab "pulang paa, vera mau minta maaf sama mama, vera gabisa kasih kado buat mama", papa hanya tersenyum kepadaku.
tiba dirumah aku langsung berlari mencari mama, papa mengikutiku dari belakang. kudapati mama sedang membaca novel di ruang keluarga, aku memeluk mama sambil menagis, "vera, ini bukan akhir dari segalanya, vera harus berusaha lagi ya. mama udah bangga kok sama vera, harus bangkit lagi ya. lain waktu, mama sama papa yakin kok vera pasti mampu menjadi yang terhebat" kata mama. dari sudut ruangan papa tersenyum kecil kepada aku dan mama.

0 komentar:

Posting Komentar

Next Prev
▲Top▲